Feeds:
Posts
Comments

Ada dua orang pengembara yang ingin melakukan perjalanan kesebuah tempat. Untuk dapat mencapai tempat tersebut keduanya menaiki sebuah kapal yang amat sangat besar.

Di dalam kapal ada dua kelompok yang terlihat sangat berbeda. Kelompok pertama, wajah mereka nampak begitu cerah. Sedangkan kelompok kedua, wajah mereka nampak begitu pucat dan kelelahan sambil memanggul banyak barang bawaan di pundaknya.

Sebagaimana para penumpang lainnya yang ingin menempuh perjalanan jauh, Kedua pengembara tersebut pun membawa barang-barang yang amat berat. Ketika sampai di dalam kapal, pengembara pertama langsung meletakan semua barang bawaan di lantai kapal. Sedangkan pengembara kedua masih saja memikul barang bawaannya.

Pengembara pertama memberi tahu kepada pengembara kedua agar dia meletakan barang-barangnya di lantai kapal. Karena dia sudah berada di atas kapal yang sangat besar di mana dia bisa bebas meletakan barang bawaanya di mana saja dia suka. Sehingga dia bisa beristirahat guna mencapai tempat tujuan yang amat jauh.

Pada awalnya pengembara kedua tetap teguh pada pendiriannya untuk tetap memikul barangnya sampai tujuan, dia khawatir barangnya akan hilang dan rusak jika diletakan di lantai kapal. Di berpikir toh banyak penumpang lain di sekitarnya yang walaupun barang yang dibawa lebih banyak dan berat, tetap memanggul barang-barang bawaanya sendiri.

Namun Karena semakin lama kondisinya semakin lemah, dan pemilik kapalpun telah memperingatkan kepadanya jika ia tetap tidak mau meletakan barang-barangnya dikapal, dia akan dilemparkan kelaut sehingga binasa. Diapun melihat banyak penumpang yang memanggul barang bawaanya sendiri satu persatu mengalami kejaidan yang mengerikan.

Ada yang dilempar kelaut oleh pemilik kapal karena sudah berkali-kali diperingati untuk meletakan barang bawaanya dia tetap tidak mau. Ada lagi yang karena kelelahan akhirnya mati tertimpa barang-barang bawaanya. Ada lagi yang karena tidak kuat membawa barang-barang bawaanya dia membunuh dirinya sendiri.

Akhirnya pengembara kedua meletakan semua barang bawaanya di lantai kapal. Setelah meletakannya dia merasa lebih baik dan lebih nyaman.

Sobat tahukah kita kalo pengembara-pengembara itu adalah kita, sedangkan barang-barang bawaan adalah beban-beban kehidupan kita dan kapal besar itu adalah tawakal kepada Nya.

Teramat banyak dari kita yang begitu angkuh merasa diri sanggup memikul beban-beban kehidupan ini sendiri. Tanpa pernah sadar bahwa sebenarnya Allah telah menyediakan ruang besar tempat kita meletakan beban-beban kehidupan hidup kita yang teramat sangat berat itu.

Ruang besar itu bernama tawakal kepada Nya. Betapa naifnya kita jika merasa bahwa kita sanggup mengatasi setiap masalah kehidupan ini sendiri.

Seorang mukmin adalah orang yang cerdas dalam memahami kehidupan ini. Ia begitu mengenal karakteristik kehidupan ini yang penuh dengan cobaan dan rintangan, walaupun demikian ia juga telah sangat paham bahwa semua beban-beban itu tidak akan memberatkan kehidupannya jika ia meletakannya di tempat yang telah Allah SWT sediakan.

Seberat apaun beban yang di amanahkan Allah SWT kepada nya segera ia letakan di tempat bernama tawakal itu melalui sujud-sujud panjangnya, melalui kesitiqomahannya dalam beramal baik, melalui sedekah-sedekahnya, melalui munajatnya di sepertiga malam seraya dengan penuh semangat dan usaha yang optimal terus berusaha menjalani kehidupan ini.

Kalau kita mau jujur terhadap diri sendiri, pastinya kita akan sadar bahwa kita teramat lemah untuk menjalani kehidupan ini tanpa pertolonganNya. Jika kita merasa kuat lantas mengapa kita tidak dapat mengambil kembali sesuatu yang telah diamabil lalat dari makanan kita, mengapa kita tidak menahan nyawa orang yang kita sayangi ketika sakaratul mautnya, mengapa kita tidak bisa mengahadirkan kebahagian dan ketenangan jiwa kapan saja sesuka hati kita.

Jika semua kita dapat memahami kehidupan ini dengan baik. Kita dapat memahami bahwa Allah telah menyediakan ruang luas agar beban-beban kehidupan itu tidak memberatkan kita.

Maka tidak akan ada orang yang hari-harinya nya dipenuhi dengan bermuram durja, kita tidak kan mendengar banyaknya kabar seseorang mengakhiri kehidupannya dengan menggantung diri atau meminum racun hanya karena tidak dapat membayar hutang tiga ratus ribu rupiah yang harus dilunasinya, dan segala macam bentuk keputusasaan lainnya akibat tidak pernah memahami makna kehidupan ini.

Sobat, akankah kita masih tetap angkuh untuk terus memikul beban-beban kehidupan kita sendiri ataukah kita telah menyadari bahwa kita teramat lemah untu memikul beban-beban itu sendiri.

Sehingga kita akan segera meletakannya diruang yang Allah telah sediakan sipertiga malamnya, di sujud-sujud ketika menghadapNya, di majelis-majelis kebaikan hamba-hambaNya yang Shaleh. Tentunya hanya kita yang dapat menjawabnya.

Diantara karakter orang beriman adalah menghindarkan diri dari kesia – siaan:
Allah berfirman, “Beruntunglah orang – orang yang beriman. (Yaitu) orang – orang yang khusyu dalam sholat dan orang – orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tidak berguna” (QS.Al-Mu’minun: 1-3)

Allah berfirman tentang hamba – hambaNya yang taat, “Dan apabila mereka bertemu dengan orang – orang mengerjakan perbuatan – perbuatan yang tidak berguna, mereka lalui (saja) dengan menjaga kehormatan dirinya.” (QS.Al-Furqan: 72)

Allah berfirman, “Apabila mereka mendengar perkataan yang tidak bermanfaat, mereka berpaling darinya dan mereka berkata, ‘Bagi kami perbuatan – perbuatan kami dan bagi kalian perbuatan – perbuatan kalian. Kesejahteraan atas kalin, kami tidak ingin bergaul dengan orang – orang yang tidak mengerrti’.” (QS.Al-Qashash: 55)

Allah berfirman, “Dan apabila orang – orang yang tidak mengerti menyapa mereka, mereka mengucapkan kata – kata yang mengandung keselamatan.” (QS.Al-Furqan: 63)

Orang yang banyak mengumbar kata adalah manusia yang paling dibenci oleh Rasulullah SAW, “Sesungguhnya orang yang paling aku cintai dan paling dekat duduknya denganku pada hari Kiamat adalah orang yang akhlaknya paling baik. Sesungguhnya orang yang paling aku benci dan paling jauh tempat duduknya dariku pada hari Kiamat adalah orang yang banyak mengumbar kata (ats-tsartsarun), orang yang besar mulut (al-mutasyaddiqun) dan orang yang sombong (al-mutafaihiqun). Mereka berkata, ‘Wahai Rasulullah, kami mengerti tentang ats-tsartsarun dan al-mutasyaddiqun. Lalu apa yang dimaksud dengan al-mutafaihiqun?’ Beliau menjawab, ‘Dialah orang yang sombong’.” (HR.Tirmidzi)

Seorang teman bercerita tentang indahnya penjagaan Allah. Temanku ini merasakan bahwa orang-orang disekelilingnya diberikan ilham oleh Allah untuk menjaganya dari perbuatan yang tidak membawa manfaat.

Dia bercerita bahwa seringkali teman kantornya mengingatkannya untuk shalat di tengah sibuknya pekerjaan. Selain itu, beberapa kali dia terselamatkan dari memakan makanan haram karena ada yang mengingatkannya. Seorang pelayan toko pernah menolak keinginan temanku ini untuk membeli nasi goreng yang ternyata bercampur daging haram dan di suatu pesta, seorang ibu mengingatkannya untuk tidak memakan suatu hidangan yang juga ternyata tidak halal.

Dia percaya bahwa penjagaan Allah bukanlah suatu peristiwa eksklusif milik para Nabi dan orang-orang shalih, tetapi merupakan milik kita yang benar-benar mengusahakannya.

Temanku meyakini konsep penjagaan Allah yang ditemukan dalam salah satu hadis shahih yang diriwayatkan oleh Tirmidzi dan Ahmad. Ibnu Abbas ra berkata saya pernah berada di belakang Rasulullah SAW, maka beliau bersabda „hai anak muda, sesungguhnya aku akan mengajarkan kepadamu beberapa kalimat: jagalah Allah, niscaya Dia menjaga kamu. Jagalah Allah, niscaya kamu mendapatinya di hadapanmu. Apabila kamu meminta (sesuatu) mintalah kepada Allah. Apabila kamu meminta pertolongan, minta tolonglah kepada Allah.

Dan ketahuilah, bahwa andaikan seluruh umat manusia berhimpun untuk memberimu suatu manfaat, niscaya mereka tidak akan bisa memberimu manfaat apa pun, kecuali suatu manfaat yang telah ditentukan Allah untukmu. Dan andaikan mereka berhimpun untuk mencelakaimu dengan sesuatu, niscaya mereka tidak akan bisa mencelakaimu sedikit pun, kecuali hal itu memang sudah ditentukan Allah atasmu. Pena-pena telah diangkat, dan lembaran-lembaran telah kering“.

A’idh bin Abdullah Al-Qarni dalam bukunya Agar Dijaga Allah-Jurus Meraih Kesaktian Ilahi (Ihfazhillah Yahfazka) menuliskan bahwa kita dapat mengusahakan penjagaan Allah dengan bertakwa; meninggalkan apa yang Allah benci dan melakukan apa yang Allah perintahkan.

Menurut A’idh bin Abdullah Al-Qarni, cara konkrit yang kita bisa lakukan untuk menjaga Allah adalah menjaga shalat dan menjaga anggota tubuh seperti hati, lidah, telinga, mata dan perut dari perbuatan yang tidak membawa manfaat akan mendekatkan kita dengan penjagaan Allah. Menunaikan shalat tepat waktu, khusyuk dan berjamaah, menjaga hati dari riya, takabur, syirik, nifaq, menjaga perkataan adalah contoh-contoh usaha yang dapat kita lakukan untuk menjaga Allah.

Sebagai ganti dari usaha kita menjaga Allah, Allah akan menjaga agama dan hati kita. Sangat mudah bagi Allah untuk menggerakkan orang-orang di sekeliling kita untuk menjadi pengingat dan penjaga di kala kita lengah dalam urusan agama kita. Sangat mudah juga bagi Allah untuk memelihara kita di segala urusan dunia kita, menghindarkan kita dari segala bencana dan mempermudah segala urusan kita. Dan teramat mudah bagi Allah, untuk menundukkan makhluk-makhluk-Nya untuk membantu hamba yang menjagaNya.

Cerita Shilah bin Asyim di Khurasan, seorang ahli ibadah sekaligus seorang prajurit di bawah pimpinan Qutaibah bin Muslim, dapat menjadi ilustrasi betapa penjagaan Allah meliputi segala sesuatu. Dikisahkan Shilah memiliki kebiasaan untuk menunaikan shalat sunnah di kala semua orang tertidur. Setiap malamnya, dia shalat di tengah rimbunan semak di dekat pasukannya berkemah.

Suatu ketika, ketika Shilah sedang shalat, datanglah seekor singa. Shilah tetap meneruskan shalatnya walaupun singa tersebut mengancam keselamatannya. Dengan tenang, Shilah menyelesaikan shalat dua rakaatnya. Seusai shalatnya, Shilah menengok ke singa itu berujar lantang „Hai singa, jika kamu diperintahkan membunuhku dan memakanku, maka bunuhlah aku dan makanlah aku. Aku tidak membawa senjata apa pun, kecuali penjagaan Allah Taala. Tapi kalau kamu diperintahkan membunuhku, dan tidak pula diizinkan, maka pergilah dan biarkan aku meneruskan shalat“. Dengan izin Allah, singa itu pergi meninggalkan Shilah tanpa melukainya sedikitpun.

Cerita Shilah mungkin saja terjadi di kehidupan kita dalam bentuk lain. Di tengah kesusahan hidup yang kita alami, Allah bisa dengan mudah mengirimkan pertolongan melalui orang-orang di sekeliling kita atau dengan cara yang tidak disangka-sangka. Harga yang harus kita bayar untuk pertolongan dan perlindungan Allah tidaklah mahal. Hanya bermodalkan ketekunan untuk bertakwa, maka Allah akan menjaga kita.

Taubat

oh Tuhan….
aku bukanlah ahli surga…..
juga tak mampu, menahan siksa neraka…..
kabulkan taubat dan ampuni dosa dosa ku…..
hanya lah Engkau Maha Pengampun dosa hambaMu…..
dosa dosa ku tak terhitung bagai debu……
ya Illahi ku mohon rahmat kasih Mu….

sisa umurku berkurang setiap hari…..
dosa dosaku makin bertambah ya Illahi…..
hamba mu ini bersimpuh menyerahkan diri…..
mengaku menyeru dan memohon ampunanMu…..

bila Kau ampuni hanyalah Engkau Maha Pengampun….
bila Kau berpaling….
kemana lagi harapanku…..

puisi untuk mu, ibu

makhluk yang mulia itu
yang diciptakan oleh kelembutan
yang dimuliakan oleh Sang Tuhan
diciptakan oleh indahnya perasaan
dan ketegaran yang membuatnya tampak semakin indah

ibu
engkau tak pernah mengeluh
walau sulitnya melahirkanku ke dunia
walau sakit yang engkau derita
tangis yang menetes engkau nikmati
demi memberiku kesempatan membuka mata

engkau yang tak pernah lari dariku
walau pun kecewa yang terucap
karena ku berdosa
tapi maaf selalu ada darimu
membesarkan hatiku agar aku selalu memperbaiki diri

engkau yang tak pernah melupakanku
walau aku terkadang lupa
terlalu sibuk dengan urusan duniawi ku
mempercepat pembicaraan ketika engkau menelponku
untuk sekedar menanyakan kabar anakmu

ibu
dihadapanku engkau selalu tersenyum
menyembunyikan semua kesulitan yang engkau pikul
urusan keluarga yang menjadi tanggungjawabmu bersama ayah
aku berdosa karena lalai
karena tak tahu menahu kesulitanmu
karena yang aku dapat selalu yang terbaik darimu

ya Allah
kasihanilah ibuku
limpahkan rahmatMu padanya
yang telah berkorban demi anak2nya
tanpa memikirkan sedikitpun tentang dirinya
ya Allah
maafkan aku yang telah lalai
lalai dari membahagiakannya
lalai dari membantu kesulitannya

ibu, kasihmu tak terhingga bagiku
apakah aku sanggup membalas segala kebaikanmu ?

Older Posts »

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.